Pangkohanudnas: Peta Buta Indonesia Perlu Diajarkan Lebih Intens Di Sekolah

Jumat, 12 April 2019, 13:42 WIB | Laporan: Widya Victoria

Marsda TNI Imran Baidirus bersama AM Putut Prabantoro/Dok

RMOL. Metode belajar peta buta Indonesia perlu diajarkan kembali dan lebih intens di sekolah-sekolah, terutama untuk generasi milenial yang tumbuh seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi.

Hal ini dirasakan mendesak karena saat generasi milenial memimpin negara ini, Indonesia yang begitu luas dan berada dalam posisi strategis menghadapi ancaman yang begitu besar.

Demikian ditegaskan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda TNI Imran Baidirus ketika menerima kunjungan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro yang juga alumnus Lemhannas RI–PPSA XXI, di Markas Kohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (11/4).

Imran menjelaskan, ancaman keamanan dan pertahanan di masa depan tidak nampak karena menggunakan wilayah udara sebagai media.

Seluruh aktivitas generasi milenial berbasis pada wilayah udara ini.

"Siapa yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi secara hardware (perangkat keras) ataupun software (perangkat lunak) dialah yang akan menguasai perang di masa depan," terangnya.

Imran menjelaskan, Indonesia memiliki wilayah negara yang sangat luas. Jika dibanding dengan Eropa, jarak diagonal Sabang hingga Merauke sama dengan jarak London ke Ankara. Ini artinya, Indonesia itu besarnya meliputi belasan negara Eropa.

Hanya saja, menurut Imran, kurikulum pendidikan sekolah dasar dan menengah belum cukup memperkenalkan wilayah Indonesia.

"Memperkenalkan Indonesia sebagai wilayah itu bukan untuk nilai rapor, tetapi untuk membentuk generasi baru yang mendiami sebuah wilayah daratan, laut dan udara yang kedaulatannya perlu dipelihara, dipertahankan, dan dijaga. Penanaman pemhaman ini tidak bisa instan tetapi perlu bertahun-tahun pendidikan," Imran menekankan.

Oleh karena itu, anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan Indonesia dengan pendekatan peta buta.

"Seharusnya lulus sekolah dasar, para siswa sudah memahami peta buta Indonesia. Ini soal sederhana tetapi sangat penting bagi masa depan Indonesia,” tegas Imran.

Selain itu, siswa generasi milenial maupun setelah generasi milenial perlu dipersiapkan secara alamiah untuk mencintai wilayahnya dengan memperkenalkan angkatan pertahanan negaranya.

"Memenangkan perang di masa depan tidak cukup hanya menguasai teknologi dan informasi. Indonesia yang sangat luas ini membutuhkan generasi yang memiliki budaya disiplin, budaya bangga akan negara dan negara, dan juga budaya mimpi dari sebuah generasi baru tentang Indonesia di masa depan. Yang perlu dilakukan oleh kita semua adalah bagaimana mempersiapkan generasi baru termasuk milenial memiliki ketiga mimpi ini," ujarnya.

Sebab itulah Kohanudnas akan memulai suatu program pendidikan rekreasional “Cinta Indonesia” bagi siswa sekolah dasar dan menengah dengan cara yang sederhana.

Rekreasional ini merupakan perpaduan dari kata rekreasi (pendidikan dengan pendekatan entertain), kreasi (menciptakan mimpi) dan nasional (negara dan bangsa).  

“Program ini bertujuan membangun cinta negara dengan cara memperkenalkan angkatan udara kepada para siswa sekolah dasar dan menengah untuk mengerti wilayah udara Indonesia, pertahanan wilayah udara, memperkenalkan alat-alat pertahanan seperti pesawat terbang, lalu peta buta dan lain-lain. Anak-anak pasti bangga ketika pakaian pilot dan berfoto dengan pesawat sekalipun replika, sebagai contoh,” ujar Pangkohanudnas itu.
Tag:

Kolom Komentar


loading