Melongok Profil Empat Calon Kapal Selam Baru TNI AL

Jumat, 01 Februari 2019, 20:50 WIB | Laporan: A Karyanto Karsono

KRI Nagapasa 403/Net

RMOL. Kabar tentang Indonesia tengah bernegosiasi dengan Korea Selatan (Korsel) terkait rencana pembelian tiga unit kapal selam diesel elektrik, berhembus kencang di ajang Asia Defence Expo & Conference Series (ADECS) 2019 di Singapura.

Ternyata, tak hanya Korsel yang berminat. Beberapa negara seperti Perancis, Rusia, dan bahkan Turki juga menawarkan produk kapal selam unggulan mereka untuk memenuhi kebutuhan alutsista (alat utama sistem pertahanan) TNI AL tersebut.

Melongok lebih jauh tentang keempat jenis kapal selam yang tengah bersaing untuk masuk jajaran TNI AL itu, berikut profil singkatnya:

Type 209/1400 Chang Bogo (Korsel)

Kapal selam Type 209/1400 yang gencar ditawarkan ke Indonesia ini merupakan produk unggulan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) dari Korea Selatan. Kapal selam yang dikenal dengan kelas Chang Bogo ini sesungguhnya merupakan kapal selam Type 209 buatan Jerman  dimana Korsel telah mengantongi lisensi produksinya.

Dengan kata lain, Type 209/1400 Chang Bogo masih “saudara jauh” dari dua unit kapal selam Type 209/1300 buatan Jerman yang sudah lama meronda di laut Nusantara sejak tahun 1981.

Pada tahun 2011, Indonesia membeli tiga unit Type 209/1400 dari DSME (dua sudah melaut, satu sedang menunggu penyelesaian). Salah satunya yang telah beroperasi adalah KRI Nagapasa 403.

Mengingat Indonesia sudah familiar dengan teknologi ini, wajar jika posisi tawar DSME Korsel masih yang paling kuat. Kemudahan operasional akibat kesamaan tipe (commonality) juga menjadi faktor yang penting.

Type 209/1400 Chang Bogo berbobot sekitar 1.400 ton, berkecepatan maksimal 21,5 knot, mampu menyelam pada kedalaman 500 meter. Kapal selam ini dilengkapi 14 pucuk torpedo.

Scorpene (Perancis)

Saat ini, ada dua unit kapal selam kelas Scorpene yang digunakan AL Malaysia. Itulah yang membuat produsennya, Direction des Constructions Navales (DCN) dari Perancis  percaya diri untuk mengajukan penawaran kepada Indonesia. Selain Malaysia, Chili,  Brasil dan India juga memakai kapal selam yang disebut-sebut sebagai salah satu yang tercanggih di Eropa ini.

Dari segi ukuran, Scorpene lebih besar dibanding Chang Bogo. Kapal selam ini punya tiga varian yang bobotnya berkisar dari 1.500 ton hingga 2.000 ton. Scorpene berkecepatan maksimal 20 knot, mampu menyelam di kedalaman 350 meter dan dilengkapi 18 pucuk torpedo black shark.

Kilo (Rusia)

Kapal selam kelas Kilo buatan Rusia disebut-sebut sebagai salah satu kapal selam diesel elektrik dengan tingkat kebisingan paling rendah di dunia. Desainnya sudah digagas sejak era Perang Dingin semasa Uni Soviet.

Dari segi kesuksesan komersial, kapal selam ini bersaing dengan Type 209 series. Keduanya  sama-sama meraih banyak order pembelian di luar negara produsennya. Setidaknya ada tujuh negara yang sudah mengoperasikan Kilo, di luar Rusia.
Rusia sudah mulai gencar menawarkan kelas Kilo sejak Indonesia membeli empat unit jet tempur Sukhoi Su-27/30 pada era Presiden Megawati. Konon, salah satu kendala terberat dalam mengakuisisi Kilo adalah kebutuhan dok perawatan khusus yang spesifikasinya berbeda dengan kapal selam sejenis buatan Barat. Selain itu, harganya juga terbilang relatif mahal.

Di antara produk kapal selam yang ditawarkan pada TNI AL, Kilo merupakan kapal selam terbesar dan terberat. Dengan kisaran bobot 3.00 ton �" 3.900 ton (tergantung varian), Kilo masih mampu menggapai kecepatan maksimal 20 knot dan mampu menyelam sedalam 300 meter, Kapal Selam ini dibekali 18 pucuk torpedo serta 4 rudal jelajah.

Type 214 Reis (Turki)

Kapal selam Type 214 Reis merupakan produk Golcuk Naval Shipyard (GNS) Turki berdasarkan lisensi HDW Jerman. Type 214 ini berukuran sedikit lebih besar daripada Type 209.

Bisa dibilang Turki sebagai “penawaran kuda hitam”.  Meski relatif baru dalam pengalaman memproduksi kapal selam, namun perlu dicatat bahwa Turki sudah meraih kemampuan produksi teknologi tinggi di sektor lain, di antaranya matra udara dan darat.

Turki merupakan satu di antara (hanya) tiga negara yang dipercaya memproduksi jet tempur F-16 berdasarkan lisensi. Dua lainnya adalah Belanda dan Korea Selatan.

Type 214 yang berbobot sekitar 1.800 ton ini berkecepatan maksimal 20 knot, mampu menyelam sedalam 400 meter dan dilengkapi 8 pucuk torpedo. [yls]

Kolom Komentar


loading