Hanura

LDII Dorong Lahirnya Pahlawan di Berbagai Bidang

 JUM'AT, 10 NOVEMBER 2017 , 10:02:00 WIB | LAPORAN:

RMOL. DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia menggelar dialog kebangsaan untuk memperingati Hari Pahlawan pada 10 November.
Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam acara yang digelar hari ini. Pertama, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi  Pancasila Yudi Latif, Tenaga Profesional Bidang Politik Lemhanas Kisnu Haryo Kartiko, Ketua DPP LDII Hidayat Nahwi Rasul, dan Katib Suriah PBNU HM. Mujib Qulyubi.

Dialog yang mengangkat tema "Pahlawan dan Pembangunan Karakter Bangsa” itu, dihelat di Kantor DPP LDII, di Jakarta Selatan.

"Latar belakang acara ini adalah mengangkat peran ormas dalam pembentukan Republik Indonesia, mulai dari era pergerakan nasional hingga revolusi fisik,” ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo.

Menurutnya, kesadaran nasionalisme Indonesia dibangun oleh ormas-ormas yang bersentuhan langsung permasalahan bumiputera saat itu. Mereka mewakili berbagai golongan untuk mendapatkan persamaan hak dan akses terhadap ekonomi yang dikuasai asing. Lalu muncullah Sarekat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), dan Sarekat Islam (1911).

Organisasi-organisasi inilah yang mendorong tumbuhnya bibit-bibit nasionalisme dan menyemai munculnya partai-partai politik. Pergerakan mereka inilah yang mendorong bangsa Indonesia, menyuarakan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.

"Perasaan nasionalisme yang menguat ini pada puncaknya, menciptakan kemampuan untuk merebut kemerdekaan dan membentuk sebuah negara. Maka pemerintah tidak bisa mengabaikan jasa ormas di hari pahlawan ini,” imbuh Prasetyo. Bahkan di saata penyusunan Pancasila, tokoh-tokoh ormas terutama ormas Islam bisa berkompromi dengan baik dengan tokoh-tokoh nasionalis. “Sehingga lahirlah Pancasila seperti yang kita kenal sekarang,” ujar Prasetyo.  

Tiga bulan pascaproklamasi kemerdekaan RI, tantangan datang dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Di sinilah ormas Islam kembali berperan besar, ketika Rais Am PBNU KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, menyerukan Resolusi Jihad yang membangkitkan semangat rakyat di berbagai daerah untuk melawan penjajahan.

Melihat jasa ormas, Prasetyo menyarankan pemerintah agar bijak dalam penerapan Perppu No. 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi undang-undang (UU). Menurut Prasetyo, peraturan ini memungkinkan pemerintah melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk membubarkan ormas yang dianggap berbahaya dan mengganggu ketertiban serta keamanan. Membubarkan ormas tanpa pengadilan adalah kemunduran berdemokrasi.  

"Untuk mengenang jasa para pendiri bangsa, rakyat Indonesia, dan tentu saja ormas, 10 November menjadi hari libur nasional. Lalu mengartikulasikan dalam bentuk mendorong lahirnya pahlawan-pahlawan pembangunan di bidangnya,” imbuh Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, menegaskan Pancasila yang dijabarkan dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya, tidak dapat diimplementasikan dengan baik karena karakter jati diri masyarakat Indonesia pudar. Hal ini berakibat pengamalan Pancasila turut bermasalah, terutama dalam hal ketuhanan dan keadilan sosial.

"Peradaban itu berlapis-lapis. Lapisan paling luar itu ilmu dan teknologi, lebih dalam lagi ada estetika, lebih dalam lagi etika dan paling dalam adalah semangat ketuhanan. Jadi kekuatan karakter yang berbasis pada nilai agama itu kuat sekali sebagai benteng pertahanan suatu bangsa,” ujar Yudi Latif.

Karakter jati diri bangsa bisa hidup jika pengamalan nilai-nilai agama berjalan dengan baik. Permasalahan saat ini, Indonesia mendapati dirinya sebagai negara multi agama yang terkadang saling menegasikan satu sama lain. Yudi Latif mengungkapkan jika hal tersebut bisa dicapai dalam persamaan dan menemukan titik temu keagamaan. Dalam hal ini seluruh agama di Indonesia punya cara pandang yang sama terhadap semesta, hal ini seperti kearifan dan harmoni.

"Semua bisa dicapai jika manusia mampu mengembangkan tiga relasi yang penuh welas asih, pertama relasi dengan Tuhan, kedua relasi dengan manusia, dan relasi dengan alam. Tiga relasi ini bisa diperas menjadi satu, yaitu dalam semangat gotong royong sebagaimana dikemukakan Soekarno, kemampuan menjalin kerja sama yang aktif dalam keberagaman,” ujar Yudi Latif.  

Dengan demikian, pahlawan adalah karakter yang mampu menanggalkan sekat-sekat perbedaan. Dengan demikian di hatinya terdapat kerelaan dan keikhlasan untuk berbuat yang terbaik bagi umat manusia. Ilmu dan kemampuan yang ia miliki, didermakan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. [sam]

Komentar Pembaca
Pecat Anak Buah Surya Paloh!

Pecat Anak Buah Surya Paloh!

, 24 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

, 24 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:17:00

Cium Tangan Kiai

Cium Tangan Kiai

, 21 SEPTEMBER 2018 , 22:41:00

Antri Tanda Tangan

Antri Tanda Tangan

, 18 SEPTEMBER 2018 , 03:45:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
Ketika Kiai Ma'ruf Amin Digoyang Penyanyi Dangdut, Warganet Istighfar<i>!</i>
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Elemen Muda 212 Tolak Keputusan GNPF Ulama Yang Mendukung Prabowo-Sandi
Golkar: Kedok <i>#2019GantiPresiden</i> Sekarang Terbuka
Gatot Nurmantyo Faktor Penentu Kemenangan Pilpres
Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Suara Publik25 September 2018 05:46

Prajurit TNI-Polri Tidak Boleh Terbawa Arus Isu Pemilu
Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Nusantara25 September 2018 05:11

Antara Etika Dan Strategi Politik

Antara Etika Dan Strategi Politik

Suara Publik25 September 2018 04:45