Hanura

Kepala BNPT: Mahasiswa Harus Berpegang Idealisme

 MINGGU, 11 FEBRUARI 2018 , 06:36:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Kepala BNPT: Mahasiswa Harus Berpegang Idealisme

Suhardi Alius/Humas BNPT

RMOL. Tidak bisa dipungiri bahwa di era gobalisasi selama ini banyak mahasiswa yang berprestasi yang kena paham radikalisme. Artinya tidak ada satupun wilayah yang steril, walaupun hal tersebut sebenarnya tergantung pada pribadi masing-masing orang apalagi dengan pesatnya dunia teknologi informasi digital yang ada sekarang.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol.Suhardi Alius usai memberikan kuliah umum mengenai Resonansi Kebangsaan dan Bahaya Serta Pencegahan Radikalime  kepada hampir sebanyak 3 ribuan mahasiswa ITB, di Gedung Sabuga ITB, Bandung, kemarin.

"Ruang-ruang itu menjadi sarana yang luar biasa. Dan sekarang dengan kemampuan teknologi informasi digital itu jadi sangat cepat dan sengat sulit memonitornya. Kalau dulu kita gampang melihat secara fisik, tapi sekarang kalau orang diam  dan yang dibukanya konten-konten semacam itu (radikal) gimana? Kita juga mesti aktif," ujar Komjen Pol. Suhardi Alius

Untuk itu alumni Akpol tahun 1985 ini meminta peran serta dosen, sesama teman di lingkungan pendidikan untuk sama-sama bisa mencegah penyebaran paham radikalisme.

"‘Oh teman saya ini (terpapar) paham radikal’ lalu menginformasikan, jangan salah jalan dan saling mengingatkan. Mereka masa depan indonesia," ujar jenderal berpangkat bintang tiga kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962 ini.

Para mahasiswalah, lanjut kepala BNPT, yang akan memimpin, memiliki dan membangun negeri ini pada 10-20 tahun mendatang.

"Satu yang saya pesan, ketika kalian punya idealisme, saya lihat debat-debat itu. Ketua BEM itu, dari sisi saya melihatnya senang, luar biasa idealisme itu. Bangun terus idealisme itu. Tapi satu pesan saya, ketika nanti kalian diberikan amanah, jangan ubah idealisme itu. Sanggup nggak?" tanyanya disambut kompak para mahasiswa dengan lantang, "Sangguuup".

Generasi milenial sekarang dirasakan ‘menurun’ nasionalismenya. "Kita identifikasi generasi milinial itu melihat pendekatan secara fungsional, tidak secara historikal, kalau bermanfaat buat saya saya ambil, kalau tidak bermanfaat buat saya saya tinggal," ujarnya menyayangkan.

Para generasi muda menurutnya adalah sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia. Usia para mahasiswa adalah masa yang penuh dinamika sehingga harus dinikmati dengan sebaik-baiknya, namun harus mampu berakselerasi dengan kehidupan di masa depan.

Suhardi menggambarkan, tahun 2017 lalu BNPT mendapatkan jatah dari Menpan RB sebanyak  60 CPNS. Lalu yang mendaftar sebanyak 15 ribu orang yang semua berpendidikan sarjana.

"Di satu sisi saya bangga dan senang. Tapi di sisi lain ada kesedihan di hati saya, yang 14 ribu sekian orang ini mau kemana? Itu baru BNPT, belum kementerian lainnya," ujar mantan Kapolres Metro Jakarta Barat  ini.

Untuk itu dirinya meminta kepada generasi muda untuk mempersiapkan dirinya dengan baik serta berhati-hati dengan bonus demografi. Karena kalau sampai sekian banyak jumlah intelektual di negeri ini yang tidak terserap tentunya juga sangat rawan diinfiltrasi terhadap paham radikalisme.

"Kalau zaman penjajahan dulu sangat jelas kontak fisiknya melawan tentara Belanda, tentara Jepang dan pakai senjata banbu runcing . Kalau sekarang yang ada saling menjelekkan, hate speech di antara kita semuanya. Sejarah itu yang dilupakan. Maka saya berkepentingan untuk menyampaikan pesan moral ini karena berkorelasi dengan masalah radikalisme yang terjadi di negeri ini," ujarnya.

Mantan Kapolres Depok tersebut menambahkan, untuk menjaga eksistensi bangsa ini tentunya manjadi tanggung jawab semua warga negara. Dirinya melihat secara praktis apa yang didapatkan di bangku pendidikan hanya teori. Tapi usai menamatkan pendidikan akan berhadapan dengan kenyataan sangat berbeda dengan teori yang didapat.

"Kalau kita tidak mampu menghadapinya tentunya akan sangat frustasi. Tapi tolong pegangan buat kita adalah masalah idealisme. Tentunya masalah moral. Kita menjadi profesional itu ada dua kuncinya knowledge dan skill. Tapi kalau kita tidak dilandasi dengan moral, akhlak, tentunya kita bisa liar," ujarnya mengingatkan.

Para mahasiswa ITB yang mengikuti kuliah umum itu tampak antusias memperhatikan dan mendengarkan setiap materi yang disampaikan kepala BNPT. Beberapa di antaranya terlihat mencatat. Selain menyampaikan materi, kepala BNPT juga memutar film mengenai radikalisme.

Sebelum menutup paparannya, kepala BNPT mengajak seluruh mahasiswa yang hadir untuk bersama-sama menyanyikaln lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan alm. Gombloh.

Turut hadir dalam kuliah umum tersebut yakni Rektor ITB Prof.Dr.Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi Dr. Miming Miharja, ST,M.Sc.Eng yang bertindak sebagai moderator serta beberapa dekan dan dosen ITB.[wid]

Komentar Pembaca
KPK Berani Periksa Puan?

KPK Berani Periksa Puan?

, 23 FEBRUARI 2018 , 09:00:00

TGPF Novel Tergantung Jokowi

TGPF Novel Tergantung Jokowi

, 22 FEBRUARI 2018 , 17:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

RR Dikawal Cakra Buana

RR Dikawal Cakra Buana

, 16 FEBRUARI 2018 , 13:26:00